Aku punya satu pohon durian yang tumbuh di halaman depan rumahku. Bukan aku yang menanam pohon itu, dan juga bukan aku yang membeli rumah itu. Dan aku tidak bisa bercerita tentang pohon durian itu tanpa aku sedikit bercerita tentang rumah itu.
Saat kecil aku selalu melewati rumah ini setiap berangkat maupun pulang sekolah. Dan setiap melewatinya aku selalu berpikir, ah siapa yang bangun istana disini? Rumah itu memang terlihat lebih tinggi dari rumah-rumah sekitarnya kala itu. Kalau dilihat sekarang, rumah itu akan sama saja dengan sekelilingnya karena sekarang rumah-rumah di desa juga sudah bagus-bagus, tapi dua puluhan tahun yang lalu, di mata seorang anak kecil rumah itu terlihat seperti istana.
Rumah itu sudah beberapa kali ditempati oleh keluarga yang berbeda sampai pada akhirnya Ayahku membelinya sekitar 10 tahun yang lalu. Ayahku membelinya jauh sebelum aku menikah, bukan karena dimaksudkan untuk diberikan padaku, ya hanya karena dijual saja. Aku dua orang bersaudara, dan selain rumah yang ditempati oleh kami, Ayah sudah membangun satu rumah lagi yang ditempati oleh keluarga kecil kakakku. Jadi sebenarnya membeli rumah lagi tidak masuk dalam rencana Ayahku.
Tapi pada akhirnya aku menempati rumah itu setelah aku menikah. Orangtuaku mendorong aku untuk hidup mandiri. Kata mereka hidup mandiri dan tidak tinggal dengan orangtua atau mertua akan membantu kami untuk lebih berkembang. Aku sangat bersyukur dengan privilege itu.
Pohon durian itu selalu di sana, tumbuh di halaman depan rumah itu. Tidak pernah berbuah selama 20 tahun, berganti-ganti orang yang menempatinya. Di tahun kedua aku tinggal di sana, pohon itu berbuah. Dua buah durian yang besar-besar tumbuh di sana. Lalu orang-orang mulai tertarik dengan pohon durian itu.
Banyak yang bertanya karena ikut senang, akhirnya pohon durian yang tumbuh selama 20 tahun itu berbuah. Ada juga seorang Bapak yang aku temui di warung kopi yang bilang padaku kalau dialah yang menanam pohon durian itu.
Aku kurang paham awalnya, karena setahuku dia tidak pernah tinggal di rumah itu. Saat aku bertanya pada Ibuku, beliau bilang kemungkinan Bapak yang tadi adalah orang yang pernah menggarap tanah sebelum rumah ini dibangun, atau salah satu pekerja yang membangun rumah itu.
Kembali pada pohon durian, coba tebak berapa banyak durian yang aku makan saat itu?
Zero. Aku tidak makan satupun dari 2 buah durian yang tumbuh di halaman rumahku. Aku memberikan 1 buah pada keponakanku (keluargaku) dan 1 buah lagi untuk adik-adik iparku (keluarga suamiku).
Waktu itu Ibuku memberitahu aku untuk memberikan 1 durian untuk keponakanku, bahkan duriannya belum matang saat itu. Aku dengan marah bilang pada suamiku untuk memberikan durian itu untuk keponakanku dan adik-adik iparku. Aku tidak ingin memakan ataupun melihatnya lagi. Saat itu aku masih merasa kalau apapun yang my mother told me, aku lakukan because I won’t let her down.
Tahun-tahun berikutnya durian hanya berbuah satu atau dua buah. Kadang aku beruntung bisa menikmatinya, kadang orang lailn yang beruntung, kadang hewan-hewan pengerat yang beruntung. Tapi tahun ini begitu spesial.
Ada lebih dari 20 buah yang menggantung di pohon itu. Apakah itu mungkin? Padahal tahun-tahun sebelumnya hanya tumbuh 1 atau 2 saja dalam setahun. Aku tidak pernah memberi pupuk, tidak pernah menyirami. Dia hanya tumbuh begitu saja di halaman depan rumahku. Tanpa pernah aku apresiasi.
Seperti yang sudah diduga, semua orang membicarakannya. Orang-orang yang tidak sengaja lewat depan rumah berjalan lebih pelan, bahkan berhenti untuk mengagumi pohon durianku. Beberapa orang memang sengaja datang untuk melihat dan bertanya-tanya. Ada juga yang datang untuk meminta buahnya ada yang datang untuk meminta menyetek batangnya.
Orang-orang berbasa-basi denganku di toko, di warung dan di masjid. Ada yang terang-terangan meminta saat bertemu di jalan. Ada yang mengirim pesan, bilang kalau dia ngiler melihat durianku dan sebagainya.
Tahun ini aku memang sedang fokus untuk menjadi lebih baik, dan aku juga mulai belajar tentang boundaries. Waktu ibuku main ke rumah dan bilang padaku kalau keponakanku minta jatah durian, dengan tegas aku bilang, “Tolong jangan minta aku kasihkan durian ini ke siapapun. Aku akan menikmati durian ini sebanyak yang aku mau. Dan kalaupun aku kasihkan ke orang, aku akan kasih karena aku mau ngasih ke dia.”
Sepertinya setelah aku berani ngomong hal itu ke orang yang paling penting dalam hidupku, bilang enggak ke orang lain yang randomly ketemu di jalan atau kirim pesan itu sangat mudah. Aku merasa sangat senang bisa memiliki kemerdakaan untuk bilang tidak.
Akhirnya aku memiliki keberanian untuk menyebut pohon durian itu milikku setelah bertahun-tahun. Tuhan memberikan pohon durian itu padaku, melalui tangan orang lain yang menanamnya dan melalui Ayahku yang membeli rumahnya.
Selama beberapa tahun aku merasa pohon itu bukan milikku hanya karena ia tidak tumbuh atas usahaku. Tapi sekarang aku bisa merasakan bahwasanya pohon itu milikku, bersama dengan segenap buahnya, ranting-rantingnya, daun-daunnya, semua milikku. Dan aku berhak menikmatinya dan memberikannya pada siapapun sesuka hatiku tanpa rasa bersalah.
Ayahku sudah meninggal tanpa pernah merasakan durian yang tumbuh di halaman rumah yang ia beli dengan usahanya, akan tetapi sekarang, setiap aku memakan satu potong saja dari buah durian itu, aku berdoa agar Ayahku mendapatkan pahala yang besar, agar dia diberikan derajat surga yang tinggi, agar dia bisa makan buah-buahan apapun di surga sebanyak yang dia mau.
Saat aku membagikan durian itu kepada teman-teman dan keluargaku, dan beberapa dari mereka mengatakan bahwasanya ia belum pernah makan durian yang semanis, selembut dan dengan daging setebal itu, aku merasa cukup yakin dengan satu hal. Aku selalu bilang pada suamiku aku ingin beli tanah yang ada pohon besarnya sehingga aku bisa membangun rumah yang memiliki pohon besar di halamannya. Tapi ternyata aku sudah punya sebuah rumah yang memiliki pohon durian di halamannya, yang tidak pernah aku apresiasi hanya karena ia tidak persis seperti pohon yang aku inginkan, akan tetapi, kita selalu menginginkan apa yang tidak kita miliki sampai kita lupa apa yang kita miliki adalah apa-apa yang diinginkan orang lain ada di halaman hidup mereka.